Pelanggaran Etika Bisnis Dalam Penjualan Skincare Beretiket Biru Secara Ilegal dan Dampaknya Terhadap Keamanan Konsumen

Nurhaeni Sikki, Hevi Putriani, Shelny Ponge, Fauzia Azhari SR, Rizka Mardhia Harni, Selma Zakia Az-Zahra, Chindy Paniati Goutama Lay

Sari


Penjualan skincare beretiket biru secara ilegal masih banyak ditemukan di masyarakat dan menimbulkan permasalahan terkait etika bisnis serta keamanan konsumen. Produk ini umumnya dipasarkan sebagai krim racikan dokter atau produk eksklusif, namun sering kali tidak memiliki izin edar resmi dan informasi yang memadai mengenai kandungan maupun risiko penggunaannya. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bentuk pelanggaran etika bisnis dalam penjualan skincare beretiket biru ilegal serta dampaknya terhadap keamanan konsumen. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Sebanyak 13 partisipan dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan pengalaman menggunakan skincare beretiket biru selama minimal tiga bulan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai legalitas, kandungan, dan risiko penggunaan produk. Motivasi utama penggunaan adalah keinginan memperoleh hasil yang cepat, mengatasi masalah kulit, serta pengaruh media sosial, testimoni, dan rekomendasi dari lingkungan sekitar. Pengguna melaporkan berbagai efek samping, seperti iritasi kulit, breakout, kulit sensitif, ketergantungan produk (rebound effect), hingga kerusakan kulit jangka panjang. Penelitian juga menemukan adanya pelanggaran etika bisnis berupa kurangnya transparansi informasi, praktik overclaim, serta minimnya penyampaian risiko produk kepada konsumen. Partisipan menilai bahwa penjualan skincare ilegal berpotensi menimbulkan kerugian kesehatan dan ekonomi sehingga diperlukan pengawasan yang lebih ketat dari pemerintah dan BPOM. Penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan prinsip kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab dalam praktik bisnis skincare guna meningkatkan perlindungan konsumen serta menjamin keamanan produk yang beredar di masyarakat.

 

The illegal sale of blue-label skincare products remains widespread and raises significant concerns regarding business ethics and consumer safety. These products are commonly marketed as physician-compounded creams or exclusive skincare products; however, many lack official distribution permits and adequate information regarding their ingredients and potential risks. This study aimed to explore business ethics violations in the sale of illegal blue-label skincare products and their impact on consumer safety. A qualitative study with a phenomenological design was employed. Thirteen participants were selected using purposive sampling based on their experience of using blue-label skincare products for at least three months. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation, and analyzed using a phenomenological approach. The findings revealed that most participants had limited knowledge regarding product legality, ingredients, and potential risks. The primary motivations for using these products included the desire to achieve rapid results, address skin problems, and the influence of social media, testimonials, and recommendations from peers. Participants reported various adverse effects, including skin irritation, breakouts, increased skin sensitivity, product dependency (rebound effect), and long-term skin damage. The study also identified several business ethics violations, including a lack of transparency, overclaim practices, and inadequate disclosure of product risks to consumers. Participants perceived the sale of illegal skincare products as potentially harmful, causing both health and economic losses, and emphasized the need for stricter supervision by the government and BPOM. This study highlights the importance of implementing the principles of honesty, transparency, and responsibility in skincare business practices to strengthen consumer protection and ensure product safety in the marketplace.


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Alhodri, D. A., Halim, A. N., & Setiadi, Y. (2026). Perlindungan Hukum Terhadap Pihak Pembeli Terkait Pemalsuan Sertipikat oleh Pihak Penjual dalam Perjanjian Pengikatan Jual Beli. J-CEKI: Jurnal Cendekia Ilmiah, 5(3), 2323–2333.

Almatirahasti, A., & Surahman, S. (2025). Pelindungan Hukum Terhadap Konsumen Atas Pemakaian Produk Kosmetik Skincare Ilegal yang Mengandung Bahan Berbahaya di Kalangan Masyarakat Kota Samarinda. Nomos : Jurnal Penelitian Ilmu Hukum, 5, 502–514. https://doi.org/10.56393/nomos.v5i3.3293

Aninditya, S., Setiadarma, A., & Irawatie, A. (2023). Pengaruh Electronic Word Of Mouth Di Media Sosial Tiktok Terhadap Keputusan Pembelian Produk Skincare Somethinc. Ikon--Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, 28(2), 154–162.

Aprilia, M., Rusmawati, D. E., Oktaviana, S., & Ariani, N. D. (2026). Peran Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandar Lampung dalam Melindungi Konsumen dari Produk Skincare Overclaim. Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 4(1), 7020–7033.

Boleng, M. A. S., Sagai, R. T. L., Kalangi, J. S., & Kalalo, R. R. (2025). Optimalisasi Strategi Pemasaran (Promotion) dalam Meningkatkan Minat Beli Konsumen. Penerbit NEM.

Cantiqa, S. P., Nababan, T. F. R., Ikrimah, I., & Sofiatuzzahra, A. (2024). Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Terhadap Peredaran Bebas Kosmetik Beretiket Biru. Esensi Hukum, 6(1), 91–102.

Chen, X., & Jian, J. (2024). An Analysis of Time and Phenomenology by Husserl and Heidegger. Philosophy & Ideology Research, 4(1).

Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2017). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. Sage publications.

Devani, D. T., Putri, C. A., & Isnaini, E. (2025). Perlindungan Konsumen Terhadap Skincare Overclaim Berkandungan Merkuri. Jurnal Mitra Pengembangan Hukum, 1(3), 38–43.

Fadilah, M. I., Toto, H. A., & Marlina, L. (2025). Analisis Etika Bisnis Islam Dalam Tren Overclaim Produk Skincare Di Indonesia. Share: Sharia Economic Review, 2(01).

Hasrin, A., & Sidik, S. (2023). Tren kecantikan dan identitas sosial: Analisis konsumsi kosmetik dan objektifikasi diri di kalangan perempuan Kota Palopo. Jurnal Analisa Sosiologi, 12(4), 740–757.

Haykal, A. P., Suhud, U., & Rizan, M. (2025). Consumer Awareness and Behavior toward the Risks of Harmful Ingredients in Skincare Products: A Thematic Analysis in the Digital Era. Siber International Journal of Digital Business (SIJDB), 2(4), 389–403.

Hermans, A.-M., Boerman, S. C., & Veldhuis, J. (2022). Follow, filter, filler? Social media usage and cosmetic procedure intention, acceptance, and normalization among young adults. Body Image, 43, 440–449.

Kesuma, S. I. (2024). Ulasan Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan. Jurnal Nusantara Berbakti, 2(1), 253–261.

Maskey, A. R., Sasaki, A., Sargen, M., Kennedy, M., Tiwari, R. K., Geliebter, J., Safai, B., & Li, X.-M. (2025). Breaking the cycle: a comprehensive exploration of topical steroid addiction and withdrawal. Frontiers in Allergy, 6, 1547923.

Mugisana, R., & Septifani, E. N. (2024). Analysis of Overclaim Practices in Skincare Products: Review from Moral, Business Ethics, and Legal Protection Perspectives. Entrepreneurship and Small Business Research, 3(3 SE-Articles). https://ecsis.org/index.php/esber/article/view/385

Mustika, D. H., Darmawan, D., Wibowo, A. S., & Gautama, E. C. (2023). Legal Protection and Preventive Measures by BPOM Against the Circulation of Illegal Cosmetics in Indonesia. Journal of Social Science Studies, 3(2), 61–70.

Nurman, H., Sos, S., & Hamsal, S. E. (2025). Ekonomi Dan Etika: Sebuah Pendekatan Filsafat Moral. PT Indonesia Delapan Kreasi Nusa.

Pakaila, J. R., Aydin, R. M., & Abbiyya, S. W. (2024). Tren overclaim dalam iklan industri kecantikan: Analisis etika terapan pada produk skincare di Indonesia. Kabillah, 9(2), 504–510.

Ramadhani, N., Faldin Abimayu, & Sri Handayani. (2026). Dilema Safe Harbor: Pertanggungjawaban Marketplace terhadap Peredaran Kosmetik Overclaim dan Ilegal. Indonesian Journal of Law and Justice, 3(3 SE-Articles), 13. https://doi.org/10.47134/ijlj.v3i3.5625

Rastiawaty, R., & Alrip, I. (2024). Penegakan Hukum Terhadap Peredaran Kosmetik Ilegal: Perspektif Teori Kontrol Sosial Travis Hirschi. Jurnal Legislatif, 19–35.

Rohit, V., Reddy, S. R., Gajula, N., & Deepthi, K. (2021). A study on the clinical profile of dermatoses induced by topical corticosteroids. International Journal of Research in Dermatology, 7(2 SE-Original Research Articles), 177–183. https://doi.org/10.18203/issn.2455-4529.IntJResDermatol20210041

Sihombing, A. (2023). Hukum Perlindungan Konsumen. CV. Azka Pustaka.

Sikki, N., Priadi, M. D., Kholifah, C. N., & Putri, F. K. (2023). Implementasi Etika Bisnis Pelayanan Konsumen E-Commerce Di Era Globalisasi. Prosiding Konferensi Nasional Sosial Dan Politik (KONASPOL), 1, 501–514.

Soemarwi, V. W. S., & Ridzkia, Y. (2023). Perlindungan hukum konsumen terhadap peredaran kosmetik palsu berdasarkan Uu Nomor 8 Tahun 1999 Tentang perlindungan konsumen dan peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2019. JURNAL RECTUM: Tinjauan Yuridis Penanganan Tindak Pidana, 5(1), 995–1010.

Stacey, S. K., & McEleney, M. (2021). Topical corticosteroids: choice and application. American Family Physician, 103(6), 337–343.

Sugiyono. (2022). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta.

Turati, M., Boerci, L., Piatti, M., Russo, L., Rigamonti, L., Buonanotte, F., Courvoisier, A., Zatti, G., Piscitelli, D., & Bigoni, M. (2023). Meniscal allograft transplants in skeletally immature patients: a systematic review of indications and outcomes. Healthcare, 11(9), 1312.

Utomo, Y. D. (2025). Legal Liability of Skincare Business Owners for Using Overstated Claims. Syiar Hukum: Jurnal Ilmu Hukum, 23(1), 13–32.

Velásquez, J. D., Jaramillo, P., & Ibarra, S. (2025). Trends in Business Analytics Education: Innovation, Learning, and Pedagogy. IEEE Revista Iberoamericana de Tecnologias Del Aprendizaje.

vidia, & Rokan, M. K. (2025). Hukum Melakukan Promosi Produk Overclaim Oleh Influencer Ditinjau Dari Perlindungan Konsumen (Studi : Produk Skincare): The Law on Influencers Making Overclaimed Product Promotions from a Consumer Protection Perspective (Study: Skincare Products). Jurnal Media Hukum, 13(2 SE-Articles), 220–237. https://doi.org/10.59414/jmh.v13i2.1031




DOI: https://doi.org/10.37531/bijac.v7i2.12390

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional
Web Analytics View My Stats
Alamat Penerbit / Pengelola : Jl. Meranti Raya No.1, Pandang, Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90231, Indonesia